Jumat, 27 Juni 2014

Jatuh cinta itu berat dilutut

Jatuh cinta itu berat dilutut.       
***
  Angin musim panas bertiup menuju barat, poni gadis itu bergoyang seiring dengan angin yang berhembus. Pupil matanya menatap kosong kedepan. Lapangan sekolah ini terlihat sepi karena jam makan siang. Tangannya tak henti-henti menggengam botol minuman itu dengan erat. Perasaan kesal mulai menggeluti tubuhnya. Gigi kelinci milik gadis berambut sepunggung ini mulai menggigit kecil bibir tipisnya dengan tak sabaran. ‘Kemana dia?’ dua kata ini tak berhenti berputar di sekitar otaknya. Lalu pupil matanya membesar, tubuhnya menjadi kaku seketika. Nafasnya terhenti sesaat. Lalu detakan jantungnya berbunyi dengan cepat. Sekumpulan anak laki-laki memasuki lapangan basket dengan semangat. Gadis kecil itu masih tak bergerak sedikit pun. Arah matanya tertuju kepada anak laki-laki dengan tinggi 175 cm. Rambut dan baju yang basah oleh keringat ditambah dengan kecepatan bermain di lapangan menambah rasa kagum Imaji pada anak laki-laki itu.

“Mengapa harus jatuh kepadamu?” gumam Imaji kecil.

  Ia menghela nafas panjang, tak terasa satu jam ia duduk di bawah pohon beringin ini. Pandangan matanya tak lepas dari kapten basket kebanggaan sekolahnya. Otot wajahnya tak henti-henti tertarik seakan tak lelah sedikit pun. Jam makan siang akan segera berakhir. Itu berarti ia harus berhenti menatap anak itu. Tepat ketika bel masuk berbunyi, kumpulan anak laki-laki itu berdecak keras.

“pft— baru saja bermain, bel sialan itu berbunyi tsk” decak Duma, salah satu pemain basket.

  Emir, kapten basket dari club ini  berdecak kesal. Emir dengan gusar mengelap keringat yang berada di pelipisnya. Lalu ia menyuruh kumpulan anak-anak ini bubar. Kelas siang akan dimulai. Emir melangakah meninggalkan lapangan basket. Imaji beranjak dari tempat duduknya dengan cepat. Kaki kecilnya melangkah mendekati Emir. Selangkah kaki terasa berat bagi Imaji. Ia menelan ludahnya berkali-kali.

“Emir” panggilnya dengan suara lembut.

  Sosok didepannya berbalik dengan cepat. Emir menatap Imaji dengan tatapan dingin. Bukan, bukan karena Emir membenci Imaji. Ini karena Emir termasuk laki-laki cuek dan dingin. Laki-laki dengan golongan darah B. Laki-laki yang susah didekati. Laki-laki yang paling Imaji tidak suka. Laki-laki yang tak pernah mengerti perasaan orang lain. Laki-laki misterius namun menarik. Tapi nyatanya ia terjatuh pada Emir. Imaji bersumpah, ia mencoba mati-matian untuk menatap ciptaan –hampir sempurna— didepannya.

“Ya?” sahut Emir singkat.

“Ini— untukmu—“ tangan kecil milik Imaji menyodorkan air mineral kepada sosok didepannya.

  Lalu dengan hitungan detik, bumi terasa berputar dengan cepat. Keduanya tak berkutik . Tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya terdengan bunyi angin musim panas yang tak menentu. Emir hanya menatap tangan kecil bersama air mineral didepannya dengan tatapan bingung. Imaji menggigit bibirnya kecil untuk menetralkan perasaanya.

“Tidak— aku tidak haus” Emir mendorong tangan didepannya. Ia menolaknya dengan santun.

          Imaji menahan nafasnya sesaat. Sosok didepannya berbalik dengan cepat. Ia menundukkan wajahnya. Lalu ia tersenyum miris. Ia menegakkan kepalanya, menatap punggung Emir yang semakin menjauh. Ingin rasanya ia mengejar Emir. Namun apa? Jatuh cinta itu berat di lutut. Ia tak mampu mengejarnya.

           Matanya memanas seketika. Ia tertunduk ditengah lapangan sekolah. Perasaannya tak  terarah sama seperti angin musim panas yang tak menentu. Walaupun begitu, ia tak pernah menyalahkan Emir yang selalu bersikap dingin. Ia juga tidak pernah menyalahkan dirinya karena jatuh kepada Emir. Karena apa?

           Karena, jatuh cinta seperti jatuh tersandung. Saat kalian tersandung, tidak mungkin kalian memilih tempat tersandung bukan? Dan saat kau terjatuh lalu bangkit kembali, lututmu terasa berat.
Maka dari itu, jatuh cinta berat dilutut.
***
 Credit By : Titi Nurhaliza 

Tidak ada komentar: